How Democracies Die Viral, Ini Ringkasan Buku yang Dibaca Anies Baswedan
How Democracies Die. Judul buku yang dibaca Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada Minggu, 22 November 2020 pagi jadi perhatian. Hal tersebut terlihat dalam upload di account Instagram pribadinya.
bandar togel lotto cara menemukan situs togel online terpercaya
"Selamat pagi semua. Selamat nikmati Minggu pagi," catat @aniesbaswedan.
Tidak cuman performa rileks Anies yang kenakan sesudah baju putih plus sarung yang jadi perhatian. Tetapi, apa yang dibaca oleh Gubernur DKI Jakarta itu demikian menonjol dan mengundang perhatian netizen.
Satu kiriman dibagi oleh Anies Baswedan (@aniesbaswedan)
"Judul Bukunyaaa Code Kerass! Fresh terus pak! salam dari Jawa barat," catat @ozonnmariana.
"Bukunya code sekali," lanjut @okiez_99.
Lalu, apa sesungguhnya isi buku dengan cover hitam dan fon tulisan putih itu?
Berdasar info dari situs lifeclub.org, How Democracies Die adalah karangan dari Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.
Buku ini menerangkan sekitar kematian mekanisme demokrasi dunia, ingat beberapa persoalan politik, khususnya di teritori Amerika.
Dalam bukunya, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menerangkan bila demokrasi pengin masih sehat dan berperan, dibutuhkan beberapa kepatuhan pada ketentuan spesifik dan kaidah pro-demokrasi.
"Dengan menyaksikan studi masalah dari demokrasi yang jatuh di Venezuela dan Peru, penulis mengakui jika sikap yang dipropagandakan oleh pemerintah Trump sudah mengakibatkan timbulnya kediktatoran," catat lifeclub.org.
Levitsky dan Ziblatt menerangkan bagaimana demokrasi di AS sudah lama memiliki masalah. Khususnya dalam soal hak pemilih. Penulis memberi keinginan ke pembaca supaya AS bisa menangani badai itu.
"Dalam rangkuman How Democracies Die oleh Steven Levitsky, Daniel Ziblatt, Anda pun akan mendapati bagaimana mekanisme dua partai di AS berperan selaku penjaga gerbang yang kuat di masa lampau. Kenapa beberapa pimpinan Republik perlu mengambil langkah dan bersihkan rumah sama seperti yang dikerjakan Swedia di tahun 1930-an; dan bagaimana Partai Republik berbeda dari partai Lincoln jadi partai Trump," catat Lifeclub.
Kematian demokrasi satu negara yang dilukiskan oleh Levitsky dan Ziblatt diidentikkan dalam beberapa pertanda.
"Sinyal bahaya itu ialah saat seorang politikus berusaha untuk mendiskreditkan rivalnya secara palsu. Apa seorang membuat claim yang tidak berdasarkan jika musuh harus dipenjara, atau adalah lawan negara?"
"Sinyal peringatan setelah itu toleransi, atau sikap menggerakkan pada pemakaian kekerasan. Apa ia menjalankan bisnis dengan beberapa tokoh mafia atau memberikan dukungan tindakan orang militan?"
"Sinyal paling akhir ialah pernyataan kemauan untuk mereduksi hak-hak sipil seorang atau instansi, seperti tuntutan jika negara semakin lebih baik tiada kebebasan jurnalis."
How Democracies Die diedarkan di tahun 2018 dengan keseluruhan 320 halaman. Berdasar info dari situs amazon.com, buku ini dipasarkan pada harga US$ 33,90 atau sama dengan Rp 479 ribu (kurs 1 USD = Rp 14.147).
How Democracies Die menjelaskan contoh masalah pergejolakan politik di beberapa negara yang memperlihatkan bagaimana cikal akan kematian satu demokrasi selaku mekanisme negara.
Keramaian massa yang berlangsung di acara pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab membuat beberapa petinggi terserang getahnya.
